bismillahirahmanirahim
salah satu stigma yang tertanam begitu kuat dalam masyarakat kita, khususnya dunia kemahasiswaan adalah mahasiswa yang pintar harus ditandai dengan ip tinggi, mahasiswa yang mendapat ip tinggi adalah mahasiswa yang luar biasa, dan satu lagi adalah mahasiswa dengan ip tinggi akan menjadi orang yang sukses. khusus untuk stigma yang ketiga, hampir semua mahasiswa telah mendapat pencerahan bahwa tidak ada hubungan antara ip dengan kesuksesan. namun pada faktanya, semua mahasiswa tetap mengejar ip tinggi bahkan hanya sekedar untuk prestise dan dibanggakan kepada orang lain.sebenarnya memang benar, sebagai mahasiswa adalah bertugas utuk belajar dan hasil belajar yang baik akan diindikasikan dengan ip yang tinggi pula. hal ini menjadi salah saat mahasiswa hanya berpola pikir kalau mereka harus mendapat ip yang tinggi agar "dianggap" pintar, bisa dibanggakan, dan menganggap sebelah mata pada teman-teman yang ip nya berada di bawah kriteria yang menurutnya bagus. agak miris jika saya menengok apa yang ada di kampus tempat saya kuliah. walau semua tidak pernah berkata ip adalah raja, pada faktanya ip adalah hal yang selalu dielu-elukan dan dan bahkan terkesan didewakan. lucunya banyak temn saya cenderung dikucilkan dan dianggap tak berprestasi hanya karena ip mereka pas-pasan.
kecerdasan dan prestasi seseorang adalah hal yang sangat rumit dan kompleks. sesuatu yang sangat kompleks tersebut tak bisa kalau hanya diukur dengan satu indikator saja yakni ip/ipk. kalau diibaratkan untuk menentukan kemampuan seseorang itu ada satu juta syarat yang harus dinilai, mungkin ip bisa menjadi salah satunya. ingat, hanya menjadi salah satu kriteria dari satu juta kriteria yang akan dinilai. pada faktanya banyak orang yang memiliki ip tinggi tapi gagal dalam karir, begitu juga ada orang yang bahkan tidak memiliki ip(baca:tidak kuliah) tapi justru sukses besar dalam hidupnya. tentu saja karena ip hanya salah satu saja dari satu juta syarat yang harus dipenuhi, kalau satu riteria tersebut tak terpenuhi, toh masih ada 999.999 kriteria llain yang bisa diperjuangkan.
satu fakta unik nan menggelitik di kampus saya adalah peran dosen begitu besar dalam menentukan ip seorang mahasiswa. jadi pertanyaaannya, jika ip adalah indikator kecerdasan dan kesuksesan seseorang, apakah dosen juga yang menentukan kesuksesan seseorang? saya rasa itu pertanyaan retoris yang tak perlu saya jawab. sebutan dosen bonus dan dosen killer pun populer di kalangan mahasiswa. jadi, kalau mau dapat ip bagus, masuk saja di kelas yang dosennya bonus-bonus semua.hehehe. pada akhirnya, mahasiswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan tekad yang kuat dalam belajar sering harus kalah dalam perburuan ip hanya karena kurang beruntung akibat mendapat dosen yang killer. dan mahasiswa yang mendapat dosen bonus, dengan usaha yang biasa-biasa saja, bisa dengan mudah mendapat ip tinggi, lah wong dibonusi sama dosennya. lucunya lagi, banyak yang merasa bangga dan merasa hebat hanya karena mendapat ip tinggi bonusan.
jadi, mari singkirakan stigma dan pandangan ip tinggi adalah segalanya. banyak contoh dan bukti nyata orang yang bahkan tidak memiliki ip, tapi sukses besar dalam hidupnya. Thomas Alfa Edison, ilmuwan paling fenomenal bahkan tidak lulus dari sekolah dasar dan dicap bodoh oleh gurunya. pun dengan bung Bill Gates, Lim Su Long, dan banya contoh lainnya.
jadi, masih menjadi ip mania? pergi saja ke laut sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar